Rabu, 03 April 2013

Sekilas Tentang Tanah Karo : Geografis



Karokab, Artikel -  Karo merupakan  suku asli yang mendiami dataran tinggi Tanah Karo di Sumatera Utara.Yang termasuk wilayah Dataran Tinggi Tanah Karo adalah Kabupaten Karo saat ini yang merupakan pusat dari Kebudayaan Karo.[1] Tanah Tinggi Karo, terletak di hamparan pegunungan Bukit Barisan, bentuknya seperti kuali besar dengan ketinggian 140-1400 m dpl. Di daerah Karo Utara terdapat Gunung Vulkanik, Sinabung dan Gunung Sibayak. Luas wilayah Kabupaten Karo adalah 2.127,25 Km2 atau 212.725 Ha atau 2,97 persen dari luas Propinsi Daerah Tingkat I Sumatera Utara, dan secara geografis terletak diantara 2°50’–3°19’ Lintang Utara dan 97°55’–98°38’ Bujur Timur.

Yang termasuk dalam  wilayah Karo lainnya adalah wilayah Kecamatan Pancur Batu, Sibolangit, Sibiru-Biru, Sunggal dan Gunung Meriah di Kabupaten Deli Serdang yang disebut juga dengan Karo Jahe (Karo Hilir). Kecamatan Salapian, Sei Binge dan Telagah di wilayah Kabupaten Langkat disebut juga Karo Langkat (Karo Binge). Sejak zaman dahulu, Tanah Tinggi Karo dikenal sebagai pengolah hasil hutan, perkebunan lada, jeruk padi dan kapas.[2] Masyarakat di Tanah Tinggi Karo dikenal juga dengan peternak Kuda. Sementara itu di Karo jahe terkenal dengan pekebun lada dan tembakau.[3]

>>Sosial Budaya Masyarakat Karo>>>
[1]Wara Sinuhaji, USU
[2]Karokab.go.id,Tanah Karo terkenal sebagai daerah penghasil berbagai buah-buahan dan bunga-bungaan, dan mata pencaharian penduduk yang terutama adalah usaha pertanian pangan, hasil hortikultura dan perkebunan rakyat. Keadaan hutan cukup luas yaitu mencapai 129.749 Ha atau 60,99 persen dari luas Kabupaten Karo. Kabupaten Karo merupakan Daerah Hulu Sungai (DHS) dan  Daerah Aliran Sungai (DAS) Wampu/Ular, Sub Daerah Aliran Sungai Laubiang.

[3]Sekilas Perjuangan Garamata, Yayasan Garamata.

Sabtu, 01 Desember 2012

Harga Sayur Mayur Hari ini


NoNama SayurHarga Di PetaniHarga Di PedagangTanggal
1Sayur Pahit/sawi hijau3000320028 Nopember 2012
2Cabe Rawit180001900028 Nopember 2012
3Tangho4000450028 Nopember 2012
4Kacang Buncis2900320028 Nopember 2012
5Daun Sop/Seledri8500900028 Nopember 2012
6peleng / Horesano4500510028 Nopember 2012
7Cabe Merah7500900028 Nopember 2012
8Brokoli2500250028 Nopember 2012
9Selada4500600028 Nopember 2012
10Sayur Putih/ Petsai1000110028 Nopember 2012
11Lobak1500200028 Nopember 2012
12Terong1200150028 Nopember 2012
13Kentang3000300028 Nopember 2012
14Wortel2900300028 Nopember 2012
15Sawi2000220028 Nopember 2012
16Tomat100090028 Nopember 2012
17Kacang Rendang4000500028 Nopember 2012
18Sayur Pahit/sawi hijau2000220028 Nopember 2012
19Kol Bunga3200350028 Nopember 2012
20Bawang Pre5000550028 Nopember 2012
21Cabe Hijau4500500028 Nopember 2012
22Kol Bulat1500150028 Nopember 2012
23Sawi3000320028 Nopember 2012
24Kacang Arcis100001200028 Nopember 2012
25Jipang140001500028 Nopember 2012
26Kol Bulat1400160027 Nopember 2012
27Sawi3000320027 Nopember 2012
28Kacang Arcis80001000027 Nopember 2012
29Jipang180002000027 Nopember 2012
30Sayur Pahit/sawi hijau3000320027 Nopember 2012
31Cabe Rawit155001800027 Nopember 2012
32Tangho3000350027 Nopember 2012
33Kacang Buncis2800320027 Nopember 2012
34Daun Sop/Seledri80001200027 Nopember 2012
35peleng / Horesano3000350027 Nopember 2012
36Cabe Merah7000900027 Nopember 2012
37Brokoli2300250027 Nopember 2012
38Selada5000700027 Nopember 2012
39Sayur Putih/ Petsai900120027 Nopember 2012
40Lobak2000250027 Nopember 2012
41Terong1000150027 Nopember 2012
42Kentang2900320027 Nopember 2012
43Wortel3000320027 Nopember 2012
44Sawi2200250027 Nopember 2012
45Tomat1200150027 Nopember 2012
46Kacang Rendang4500600027 Nopember 2012
47Sayur Pahit/sawi hijau2200250027 Nopember 2012
48Kol Bunga3100330027 Nopember 2012
49Bawang Pre6000800027 Nopember 2012
50Cabe Hijau4000500027 Nopember 2012
51Kol Bunga3000320026 Nopember 2012
52Bawang Pre6000800026 Nopember 2012
53Cabe Hijau4500600026 Nopember 2012
54Sawi3000350026 Nopember 2012
55Kacang Arcis85001000026 Nopember 2012
56Jipang150001900026 Nopember 2012
57Sayur Pahit/sawi hijau3000350026 Nopember 2012
58Cabe Rawit150001800026 Nopember 2012
59Tangho3000400026 Nopember 2012
60Kacang Buncis2700310026 Nopember 2012
61Daun Sop/Seledri80001000026 Nopember 2012
62peleng / Horesano4000500026 Nopember 2012
63Kol Bulat1300160026 Nopember 2012
64Cabe Merah7500900026 Nopember 2012
65Brokoli2400280026 Nopember 2012
66Selada4500600026 Nopember 2012
67Sayur Putih/ Petsai900110026 Nopember 2012
68Lobak2500300026 Nopember 2012
69Terong1000150026 Nopember 2012
70Kentang2800320026 Nopember 2012
71Wortel3000320026 Nopember 2012
72Sawi2000300026 Nopember 2012
73Tomat1500180026 Nopember 2012
74Kacang Rendang5000800026 Nopember 2012
75Sayur Pahit/sawi hijau2000300026 Nopember 2012
76Cabe Hijau4000500025 Nopember 2012
77Kol Bunga3000320025 Nopember 2012
78Bawang Pre8000900025 Nopember 2012
79Kacang Arcis90001200025 Nopember 2012
80Jipang200002500025 Nopember 2012
81Kol Bulat1300150025 Nopember 2012
82Sawi3000350025 Nopember 2012
83Cabe Rawit150001800025 Nopember 2012
84Tangho3500400025 Nopember 2012
85Sayur Pahit/sawi hijau3000350025 Nopember 2012
86peleng / Horesano4500600025 Nopember 2012
87Daun Sop/Seledri100001200025 Nopember 2012
88Selada3000400025 Nopember 2012
89Cabe Merah150001700025 Nopember 2012
90Brokoli2500260025 Nopember 2012
91Terong1000120025 Nopember 2012
92Sayur Putih/ Petsai1000120025 Nopember 2012
93Lobak1500160025 Nopember 2012
94Sawi2000220025 Nopember 2012
95Kentang2800330025 Nopember 2012
96Wortel2800310025 Nopember 2012
97Sayur Pahit/sawi hijau2000220025 Nopember 2012
98Tomat1000120025 Nopember 2012
99Kacang Rendang5000560025 Nopember 2012
Harga satuan Kg
Khusus Jipang * Harga Satuan adalah Karung (1 karung=100 biji)

Minggu, 30 September 2012

Tama Ginting Pejuang Yang Terlupakan

Karokab, Tokoh Karo. Tama Ginting, tak banyak yang tahu dengan tokoh Karo satu ini. Sehingga ia hanyalah seorang pejuang yang terlupakan. Berbeda dengan tokoh-tokoh Karo di zamannya, ia lebih cendrung melakukan perlawanan lewat jalur politik. Jasanya dalam menentang penjajah Belanda dan pemerintah pendudukan Jepang, pelaksanaan Revolusi Sosial tak berdarah dan meredam konflik etnis antara Karo dan Tapanuli patut di hargai.
 
Zaman Penjajahan Belanda dan pendudukan Jepang 
Kedekatannya dengan Ishak Kesuma seorang tokoh pergerakan Nasional, Tama Ginting berhasil mengerakkan rakyat melawan penjajahan Belanda di Tanah Tinggi Karo bersama Pa Tolong Manik dan Keras Surbakti melalui Pendidikan Nasional Indonesia Cabang Tanah Karo sekitar Tahun 1937 di Berastagi, sepuluh tahun setelah pemberontakan rakyat menentang penjajahan Belanda yang digerakkan oleh PKI di kota yang sama. Dua tahun setelahnya, Belanda berhasil meredam gerakan tersebut dan menangkap Tama Ginting dan memenjarakannya di Kabanjahe. Sementara itu Pa Tolong Manik dan Keras Surbakti dibuang ke Cimahi. Itulah awal perlawanannya yang frontal terhadap penjajah.

Penangkapan itu tidak menyurutkan gerakannya melawan penjajah. Malahan ia menggerakkan ribuan rakyat dari Berastagi melakukan demonstrasi kekota Kabanjahe pada tahun 1942, sebagai ucapan terima kasih kepada Jepang yang telah berhasil mengusir Belanda dari Tanah Karo. Akhir tahun 1942 Tama Ginting, Rakutta Sembiring dan tokoh-tokoh lainnya memberikan latihan kader bagi para pemuda untuk mempersiapkan diri dalam menerima penyerahan kemerdekaan dari Jepang. Para pemuda inilah yang kemudian merapatkan barisan dalam Kyodo Buedan ( Barisan Perlindungan udara Desa).

Sistim monopoli yang diberlakukan Jepang pada saat itu menimbulkan kemelaratan bagi rakyat. Barang kebutuhan hilang di pasaran, perampsan hasil pertanian, busung lapar muncul dimana-mana. Istilah Jepang “Saudara Tua”, ternyata hanya menimbulkan malapetaka. Dalam situasi demikian, Tama Ginting, Rakutta Berahmana, Selamat Ginting dan Bosar Sianipar membentuk Poesra (Poesat Ekonomi Rakyat) di Berastagi yang bertujuan membela ekonomi rakyat dan menghancurkan perekonomian Jepang di Tanah Karo. Sekembalinya dari Medan mengikuti pertemuan pemuda tanggal 21 September 1945, di Berastagi sebagai kota pergerakan, Tama Ginting mengumpulkan pemuda untuk membentuk Barisan Pemuda Indonesia Cabang Berastagi dan menyampaikan berita Kemerdekaan.

Seputar Revolusi Sosial 
Menyikapi maklumat pemerintah tentang partai-partai politik, ternyata menimbulkan disharmoni dikalangan barisan kelaskaran. Seperti pusat dan daerah lainnya di Indonesia, di Karo juga terkadi pertikaian antar partai politik dan barisan-barisan kelaskarannya. Ide Tan Malaka untuk membentuk satu kesatuan perjuangan dalam satu komando guna menentang diplomasi Belanda yang ingin kembali menjajah terwujud pada 6 November 1946 di Porwokerto dengan berdirinya Volksfront (persatuan perjuangan). Tama Ginting dipercaya memimpin persatuan perjuangan Tanah Karo yang berkedudukan di Berastagi.
 
 Meletusnya revolusi sosial di Sumatera Timur tidak terlepas dari sikap sultan-sultan, raja-raja Sibayak dan kaum feodal pada umumnya, yang tidak begitu antusias terhadap kemerdekaan Kaum Bangsawan bekerja sama dengan Belanda/NICA, sehingga semakin menjauhkan diri dari pihak pro-republik. Sementara itu pihak pro-republik mendesak kepada komite nasional wilayah Sumatera Timur supaya daerah istimewa seperti Pemerintahan swapraja/kerajaan dihapuskan dan menggantikannya dengan pemerintahan demokrasi rakyat sesuai dengan semangat perjuangan kemerdekaan. Revolusi Sosial ini di motori oleh Volksfront dengan pimpinan utama Sarwono Sastro Sutardjo, Zainal Baharuddin, M. Saleh Umar, Nathar Zainuddin dan Abdul Xarim MS yang bekerja di balik layar. Laskar yang berperan dalam aksi ini adalah Pesindo, Napindo, Barisan Harimau Liar, Barisan Merah (PKI) dan Hizbullah didukung buruh Jawa dari perkebunan serta kaum tani.

 Di Tanah Karo pimpinan persatuan perjuangan mengadakan rapat di Kabanjahe dan Berastagi untuk melaksanakan Revolusi Sosial agar berjalan tanpa pertumphan darah, karena umumnya Raja-Raja dan sibayak di Tanah Karo tidak melakukan kegiatan anti repoblik. Revolusi sosial ini juga di motori oleh Persatuan perjuangan dengan alat pelaksana Barisan Kelaskaran Pesindo. Pada tanggal 3 Maret 1946, Persatuan perjuangan mengundang seluruh Raja dan Sibayak di Tanah Karo beserta pengikutnya untuk menghadiri pertemuan di Bungalow Sultan Deli di Bukit Gundaling. Seketika itu juga seluruh Raja dan Sibayak yang hadir diberitahukan penahanan atas dirinya. Para sibayak dan Raja urung ini selanjutnya dibawa ke Kota Cane dibawah pengawasan pemerintah Tanah Alas.

April 1946, sepasukan tentara laskar gabungan Pesindo Tanah Karo dan Laskar Aceh Tengah melakukan operasi revolusi sosial di daerah Sidikalang dan Pangururan. Operasi di pangururan ternyata mendapat hambatan, sepasukan tentara yang mayoritas warga Karo tersebut di tangkap dan ditahan di Balige. Sejalan dengan hal itu muncul isu bahwa kedatangan pasukan gabungan itu bukanlah usaha untuk melakukan revolusi sosial namun untuk menjajah. Isu ini cepat tersiar dan menimbulkan konflik antar suku. Segerombolan orang-orang mendatangi kampong-kampung yang didiami oleh suku Karo dan Pakpak, membunuh dan membakar rumahnya. Kejadian perang suku ini berlangsung selama sebulan. Untuk menyelesaikan konflik ini, Gubernur Sumatera mengutus Tama Ginting dan Saleh Umar untuk menghubungi pengetua dari kedua pihak yang bertikai guna mengambil jalan damai. Demikianlah upaya perdamaian dari konflik dapat terlaksana.

Penutup
Demikianlah sekelumit sepak terjang Tama Ginting di Tanah Karo dalam pergerakannya melawan penjajah Belanda dan Jepang, Revolusi Sosial dan pembetukan pemerintahan Karo yang berkedaulatan Rakyat seperti cita-cita proklamasi 17-8-1945. Di Tanah Karo, tokoh-tokoh seperti Rakutta Brahmana, Ngerajai Milala, Nerus Ginting Suka, Tama Ginting dan lainnya tak pernah dihargai. Ironisnya mereka bahkan seolah disingkirkan dari sejarah perjalanan bangsa ini. Mereka bukanlah pejuang yang angkat senjata dalam pergerakan kemerdekaan, namun buah pikir dan karya mereka patut  dihargai dan disejajarkan dengan tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan di Tanah Karo lainnya, sebagai khazanah bunga rampai sejarah kemerdekaan Republik Indonesia di Tanah Karo.

Minggu, 23 September 2012

04 Oktober Hari Jadi Kabupaten Karo

HUT Kab Karo, Lambang Karo, Kabupaten Karo
Lambang Kabupaten Karo
Karokab, Artikel, Sampai saat ini upaya untuk terus menggali kapan sebenarnya hari jadi Kabupaten Karo terus diupayakan oleh Dinas Kominfo Kab.Karo. Kabarnya tahun ini kembali seminar tersebut akan dilaksanakan. Saat ini ada dua opsi yang muncul dari hasil seminar Sejarah Perkembangan Kabupaten Karo pada tanggal 27 November 2007  sebagai Hari Ulang Tahun Kabupaten Karo, yakni Opsi pertama, 15 Juni 1945 pada masa penjajahan Jepang dimana Ngerajai Meliala diangkat sebagai Kepala Pemerintahan Karo dari kalangan Sibayak  dan Opsi kedua, 13 Maret 1946, sidang Komite Nasional Indonesia Tanah Karo dengan Rakutta Sembiring menjadi Bupati Karo Pertama  [1]

Seperti diketahui bahwa Ngerajai Milala adalah Raja Urung XVII kuta yang dinobatkan pada tahun  1937 yang berkedudukan di Sarinembah ( Sibayak Sarinembah). Alasan pihak Jepang mengangkat Ngerajai Milala karena dari kalangan Raja/ Sibayak di Karo dialah yang paling tinggi pendidikannya dalam bidang pemerintahan. Dia mengecap pendidikan sekolah pemerintahan di Magelang pada waktu zaman penjajahan Belanda dan setelah lulus dari sekolah pemerintahan itu ia lebih dulu sebagai pegawai di kantor Asisten Residen Afdeling Simelungun en Karo Landen di Pematang Siantar.[2] Pada tanggal 15 Juni 1945 Pemerintah militer Jepang telah mengangkat Ngerajai Meliala sebagai kepala Pemerintahan kerajaan-kerajaan Pribumi di Tanah Karo [3](Fuko Bushutyo) yang merupakan kordinator dari kesibayaken/Landschaap di Tanah Karo. Sistem kesibayaken (swapraja) itu berakhir pada saat meletusnya revolusi sosial Sumatera Timur termasuk di Tanah Karo. Puncak revolusi Sosial di Tanah Karo ditandai dengan penahanan Ngeradjai Milala dan beberapa Raja Urung dan kerabatnya di Bungalow Sultan Deli Berastagi oleh Persatuan Perjuangan. Dengan Demikian berakhirlah pemerintahan Swapraja Pribumi di Tanah Karo. Ngerajai Milala  beserta beberapa orang lainnya yang ditahan dibuang/dipindahkan ke Tanah Alas. Follow up dari revolusi sosial itu, tidak dikehendakinya pemerintahan swapraja/kerajaan seperti Landschaap, Kerajaan Urung dan Kepenghuluan yang dipimpin terus menerus secara turun menurun.  Yang penting dicatat pada masa ini adalah pada tanggal 04 Oktober 1945 Gubernur Sumatera Mr. T.M. Hasan telah mengangkat Ngerajai Milala sebagai Wakil Pemerintah Repoblik Indonesia untuk wilayah Swapraja Tanah Karo [4]dan pada tahun 1945 juga telah terbentuknya Komite Nasional Indonesia Tanah Karo yang diketuai oleh Rakutta Berahmana.

Mengingat kekosongan pemerintahan di Karo akibat revolusi sosial, Achmad Tahir selaku Komandan Divisi X TKR Sumatera Timur yang telah memberlakukan keadaan darurat  dan mengangkat M Kasim yang pada saat itu menjabat sebagai Komandan Resimen I  di Berastagi sebagai Kepala Pemerintahan Wilayah Karo.
Pemerintahan yang demokratis, dan  berporos kepada kedaulatan rakyat baru dapat terlaksana setelah diadakan Rapat Komite Nasional Indonesia Tanah Karo pada tanggal 13 Maret 1946 yang dihadiri Luat Siregar, Yunus Nasution mewakili Gubernur Sumatera. Keputusan penting yang diambil pada saat itu adalah, diangkatnya Rakutta Berahmana sebagai Bupati Karo, KM Aritonang sebagai Patih, Ganin Purba sebagai Sekretaris dan Kantor Tarigan sebagai Wakil Sekretaris dan mengangkat para lurah sebagai penganti raja urung yang sudah dihapuskan. Selain itu ditambahnya wilayah Karo dengan memasukkan Deli Hulu dan Silima Kuta Cingkes.

Dari uraian diatas sejalan dengan pendapat para akademisi pada seminar Sejarah Perkembangan Kabupaten Karo tahun 2007 yang diselenggarakan oleh Dinas Kominfo Kab.Karo, bahwa secara de-facto dan de-jure sesuai UUD 1945 pasal 18 yang telah mengakui pemerintah swapraja[5], maka Hari jadi Kabupaten Karo adalah 04 Oktober 1945, dimana Gubernur T.M.Hasan mengangkat Ngerajai Milala sebagai Wakil Pemerintah RI di wilayah swapraja Tanah Karo, dan bukannya pada saat Pemerintah Pendudukan Jepang mengangkat Ngerajai Milala, sebagai kepala pemerintah swapraja 15 Juni 1945.
SELAMAT HARI JADI KABUPATEN KARO ke 67 Tahun.
[1]Penetapan Hari Jadi Pemerintahan Kabupaten Karo. Karokab.go.id
[2]AR Surbakti, Perang kemerdekaan, 1979
[3]Sejarah Kab.Karo Masa pendudukan Jepang, Karokab.go.id
[4]AR Surbakti, Perang Kemerdekaan, 1979
[5]Kepastian Hari Lahir Kabupaten Karo Terus Digali harianandalas.com

Senin, 10 September 2012

Sekilas Tanah Karo : Merga Silima

Merga Silima, Adat Tutur Karo
Karokab, Artikel. Marga (merga) dalam masyarakat Karo berfungsi sebagai tanda pengenal kelompok, garis keturunan dan sejarah tempat tinggal. Merga di dapat dari garis keturunan bapak (patrialis).  Di dalam masyarakat Karo terdapat 5 marga induk yang dikenal dengan Merga Silima. Masing masing merga induk ini memiliki sub merga. Merga biasanya digunakan sebagai julukan untuk laki-laki, sementara untuk kaum perempuan dinamakan beru. 
Sesuai dengan hasil Kongres Kebudayaan Karo 1995 di Hotel int Sibayak Berastagi, Merga Silima terdiri dari Karo-Karo, Ginting, Perangin-Angin,Tarigan dan Sembiring. Sub merga dari masing-masin merga induk adalah :
A. Karo-Karo 
1. Karo-karo Barus ada di Barus Jahe
2. Karo-karo Bukit ada di Bukit dan buluh nawar.
3. Karo-karo Jung ada di Kuta Nangka, Kalang, Perbesi dan Batu karang. 4. karo-karo Gurusinga ada di Gurusinga dan Rajaberneh.
5. Karo-karo Kacaribu ada di Kuta Gerat dan Kerapat.
6. Karo-karo Ketaren ada di Raya, Ketaren, Sibolangit dan Pertampilen.
7. Karo-karo Kaban ada di Kaban dan sumbul.
8. Karo-karo Kemit ada di Kutamale.
9. Karo-karo Purba ada di Kabanjahe, Berastagi dan Laucih.
10. Karo-karo Surbakti ada di Surbakti dan Gajah.
11. karo-karo Sinukaban ada di Pernantin, Kabantua, Bt. Merih, Buluh Naman dan Lau Lingga.
12. karo-karo Sinulingga ada di Lingga dan Gunung Merlawan.
13. karo-karo sinubulan ada di Bulanjulu dan bulan jahe.
14. Karo-karo Sinuhaji ada di Aji Siempat.
15. Karo-karo Sekali ada di Seberaya.
16. Karo-karo Sinuraya ada di Bunuraya, Singgamanik dan Kandibata.
17. Karo-karo Samura ada di Samura.
18. Karo-karo Sitepu ada di Naman dan Sukanalu.

B. Ginting 
1. Ginting Ajartamabun ada di Rajamerahe
2. Ginting Babo ada di Gurubenua
3. Ginting Beras ada di Lau Petundal
4. Ginting Jadibata ada di Juhar
5. Ginting Jawak ada di Cingkes (?)
6. Ginting Gurupatih ada di Buluhnaman, Sarimunte, Naga dan Lau Kapur.
7. Ginting Garamata ( di Toba menjadi Simarmata) ada di Raja dan Tongging
8. Ginting Munte ada di Kuta Bangun, Ajinembah, Kubu, Dokan, Tongging, Munte, Raja Tengah
9. Ginting Manik ada di Tongging dan Lingga
10.Ginting Pase (enggo masap /sudah Punah)
11. Ginting Suka ada di Suka, Lingga Julu, Naman dan Berastepu
12. Ginting Sugihen ada di Sugihen, Juhar dan Kuta Gugung.
13. Ginting Sinusinga ada di Singa
14. Ginting Saragih ada di Linggajulu.
15. Ginting Capah ada di Bukit dan Kalang.
16. Ginting Tumangger ada di Kidupen dan Kemkem.

C. Perangin-Angin 
1. Perangin-angin Benjerang ada di Batu karang.
2. Perangin-angin Bangun ada di Batu Karang.
3. Perangin-angin Keliat ada di Mardingding.
4. Perangin-angin Kacinambun ada di Kacinambun.
5. Perangin-angin Laksa ada di Juhar.
6. Perangin-angin Mano ada di Pergendangen.
7. Perangin-angin Namohaji ada di Kuta Buluh.
8. Perangin-angin Pencawan ada di Perbesi.
9. Perangin-angin Perbesi ada di Seberaya.
10. Perangin-angin Penggarun ada di Susuk.
11. Perangin-angin Pinem ada di Sarintonu (Sidikalang).
12. Perangin-angin Sukatendel ada di Sukatendel.
13. Perangin-angin Sebayang ada di Perbesi, Kuala, Gunung dan Kutagerat.
14. Perangin-angin Sinurat ada di Kerenda.
15. Perangin-angin Singarimbun ada di Mardingding, Kutambaru dan Temburun.
16. Perangin-angin Tanjung ada di Penampen dan Berastepu.
17. Perangin-angin Ulunjandi ada di Juhar.
18. Perangin-angin Uwir ada di Singgamanik.

D. Tarigan 
 1. Tarigan Bondong ada di Lingga.
2. Tarigan Jampang ada di Pergendangen
3. Tarigan Gersang ada di Nagasaribu dan Berastepu.
4. Tarigan Gerneng ada di Cingkes.
5. Tarigan Gana-gana ada di Batukarang.
6. Tarigan Pekan ( cabang Tarigan Tambak) ada di Sukanalu.
7. Tarigan Purba ada di Purba.
8. Tarigan Sibero ada di Juhar, Kutaraja, Keriahen, Munte, Tanjung Beringin, Selakkar dan Lingga.
9. Tarigan Silangit ada di Gunung Meriah.
10. Tarigan Tua ada di Pergendangen.
11. Tarigan Tambak ada di Pembayaken dan Sukanalu
12. Tarigan Tegur ada di Suka
13. Tarigan Tambun ada di Rangkut Besi, Binangara dan Sinaman

E. Sembiring [1]  
I. Siman Biang
1. Sembiring Kembaren ada di Samperaya dan Urung Liang Melas.
2. Sembiring Kaloko ada di Pergendangen.
3. Sembiring Sinulaki ada di Silalahi.
4. Sembiring Sinupayung ada di Jumaraya dan Negeri.
II. Simantangken Biang 
1. Sembiring Brahmana ada di Kabanjahe, Perbesi dan Limang.
 2. Sembiring Bunuhaji ada di Sukatepu, Kutatonggal, dan Beganding.
3. Sembiring Busuk ada di Kidupen dan Lau Perimbon.
4. Sembiring Depari ada di Seberaya, Perbesi dan Munte.
5. Sembiring Gurukinayan ada di Gurukinayan.
6. Sembiring Keling ada di Juhar dan Rajatengah.
7. Sembiring Meliala ada di Sarinembah, Munte, Raja Berneh, Kidupen, Kabanjahe, Naman, Berastepu dan B. Nampe.
8. Sembiring Muham ada di Susuk dan Perbesi.
9. Sembiring Pandia ada di Seberaya, Payung dan Beganding.
10. Sembiring Pandebayang ada di Buluhnaman dan Gurusinga.
11. Sembiring Pelawi ada di Ajijahe, Perbaji, Kandibata dan Hamparan Perak.
12. Sembiring Sinukapur ada di Pertumbuken, Sidikalang(?) dan Sarintonu.
13. Sembiring Colia ada di Kubucolia dan Seberaya.
14. Sembiring Tekang ada di Kaban. Semua sub marga tunduk kepada marga induk. Marga Silima merupakan salah satu pilar dari 3 pilar pembentuk Masyarakat Karo, yakni Merga Silima Tutur Siwaluh, Rakut Si Teluras Perkade-kaden 12 + 1.
[1]Marga sembiring terdiri dari 2 kelompok yakni siman biang, kelompok ini berasal dari Negeri Pagaruyung Sumatera Bagian Tengah, dan diantara mereka tidak dibenarkan kawin dengan sub marga sembiring lainnya. Sementara Sembiring Simantangken Biang, dibenarkan kawin dengan sub marga sembiring lainnya. Kelompok ini diduga kuat berasal dari India. Menurut cerita lisan masyarakat Karo, Kelompok sembiring ini merupakan pengaruh zaman Hindu di Karo. Kelompok ini merupakan kelompok Brahman. Dahulu aturan tersebut dibuat agar garis keturunan kelompok ini tetap terjaga kemurniannya.

Tanah Karo : Gunung Sibayak

Karokab, Pariwisata.  Gunung Sibayak merupakan salah satu gunung berapi (Stratovolcano)[1] di Sumatera Utara. Gunung ini berada di ketinggian 2,212 m (7.257 ft) dpl, dengan kordinat 3°12′0″N 98°31′0″E, terletak di utara Tanah Tinggi Karo, 50 km barat daya Kota Medan. Gunung Sibayak terakhir meletus pada 1881. [1] 

Untuk mencapai gunung ini dapat dilakukan dengan dua rute pendakian, yakni melalui Desa Raja Berneh (15 Km dari Berastagi) dan Desa Jaranguda 1,5 km dari Berastagi. Selain jalur ini jalur yang biasa di gunakan adalah jalur 54, yang biasa digunakan oleh pendaki yang menginginkan tantangan. Titik start pendakian jalur ini berada di Penatapen. Pendaki biasanya mulai mendaki sekitar jam 02.00 dini hari untuk mendapatkan pemandangan matahari terbit dipuncak gunung ini. Dari puncak gunung ini kita bisa menyaksikan pemandangan kota Medan di kejauhan. Faktor kondensasi di gunung ini sangat tinggi yang menyebabkan seringnya terlihat kabut yang bergerombol didaerah puncak. Kawah Unik Selain puncak, daerah kawah tidak kalah uniknya. Selain disekitar kawah ditemukan batu cadas, kawah belerang yang luasnya 200 x 200 meter memiliki solfatara yang senantiasa menyemburkan uap panas. 

Harga tiket untuk memasuki areal gunung sibayak sebesar 2000 (per- Mei 2007). Disekitar kaki gunung terdapat penginapan kelas melati. Namun di kota Berastagi sendiri terdapat hotel berbintang.

[1]
Wikipedia- Stratovolcano, juga dikenal sebagai gunung berapi komposit, ialah pegunungan (gunung berapi) yang tinggi dan mengerucut yang terdiri atas lava dan abu vulkanik yang mengeras. Bentuk gunung berapi itu secara khas curam tampaknya karena aliran lava yang membentuk gunung berapi itu amat kental, dan begitu dingin serta mengeras sebelum menyebar jauh. Lava seperti itu dikelompokkan asam karena tingginya konsentrasi silikat. Di ujung lain spektrum itu ialah gunung berapi pelindung (seperti Mauna Loa di Hawaii), yang terbentuk dari lava yang kurang kental, memberinya dasar kuat dan dengan hati-hati raut yang melandai. Banyak stratovolcano yang melampaui ketinggian 2500 m. Sering tercipta oleh subduksi lempeng tektonik.

Minggu, 09 September 2012

Sekilas Tanah Karo: Sosial Budaya Masyarakat Karo

Sosial Budaya Masyarakat Karo
Peceren 1910-1925
Karokab, Artikel. Cikal bakal terbentuknya kuta atau desa di Tanah Karo, diawali dengan pembentukan Barung (reba-reba). Barung ini dihuni oleh 2-3 keluarga. Akibat pertambahan penduduk barung ini berubah status menjadi kesain. Kesain sering disebut juga sebagai kuta anak. Pemimpin kesain disebut juga sebagai pengulu yang diangkat dari bangsa taneh atau pendiri Kesain dan memiliki pemerintahan sendiri. Konfederasi dari beberapa kesain disebut dengan kuta. Seperti kesain, kuta ini memiliki pemerintahan sendiri, yang diangkat dari penduduk Bangsa Taneh. [1]

Hubungan Kekerabatan seseorang didapat dari marga yang dipakai. Marga (merga) dalam masyarakat Karo berfungsi sebagai tanda pengenal kelompok, garis keturunan dan sejarah tempat tinggal. Masyarakat Karo memiliki 5 marga yang disebut dengan "Merga Silima" , yakni Karo-Karo, Tarigan, Ginting, Perangin-Angin dan Sembiring yang masing-masing memiliki sub marga sendiri. Masing-masing sub marga tunduk pada marga induknya dan tidak diperboleh kan melakukan perkawinan. Sebuah pengecualian pada sub marga tertentu pada marga induk Sembiring dan Perangin angin. 

Masyarakat Karo tunduk pada hukum Merga Silima, Rakut Sitelu, Tutur Siwaluh dan perkade-kaden sepulu dua tambah sada (12+ 1). Sistem pemerintahan diakui berdasarkan kekeluargaan dan gotong royong. Pengambilan keputusan didasarkan pada Runggu (musyawarah mufakat). Kepemimpinan Penghulu (pengulu) didampingi oleh biak senina yaitu suku semarga namun berbeda sub marga,di dampingi oleh  Anak Beru dan disaksikan oleh Kalimbubu. Demikianlah kepemimpinan masyarakat Karo dilaksanakan oleh tritunggal tersebut.

Masyarakat Karo tinggal dalam rumah besar yang disebut dengan Rumah Tanduk yang terdiri dari delapan keluarga, dan biasa juga disebut sebagai Rumah Siwaluh Jabu. Disetiap kuta (desa) terdapat Jambur yang berfungsi sebagai tempat pertemuan, lumbung padi,  sarana komunikasi dan pos penjagaan.  Setiap anak muda diwajibkan tidur di Jambur. Pendatang yang tidak dikenal tidak dibenarkan tidur di rumah tanduk, namun pendatang tersebut diperbolehkan tidur di Jambur.

[1]3 Golongan masyarakat Karo.
1. Bangsa Taneh (Simantek Kuta) adalah golongan pendiri kuta/desa
2. Bangsa Rakyat (Sitandang) adalah golongan pendatang. Bangsa Rayat memiliki hak pinjam atau hak sewa atas tanah, namun tidak bisa diwariskan kepada generasi selanjutnya.
3. Bangsa Ginemgem adalah golongan budak, mereka adalah tawanan perang, tergadai dalam perjudian. Golongan ini tidak memiliki hak atas tanah.